Rabu, 15 Desember 2010

Cerpen ane

Dipertemukan Oleh Gelang
Udara pagi hari emang seger banget. Atau lebih tepatnya dingin. Gubraaakkk!!!. Sialan siapa nih yang tiba-tiba berhenti.
“Eh, kamu gak pa-pa kan? Tau gak ruang Kaprodi mana?” Cerocos cowok yang ngerem mendadak tadi.
“Oh, ruangannya ada di sebelah barat sana, deket ma ruang TU” jawabku yang masih terduduk meringis karna sakit.
“OK, thanks yah!”dia langsung pergi ngeloyor gitu aja. Sialan bukannya minta maaf dulu atau apa kek bantuin berdiri, gila tuh cowok.
Gara-gara kejadian tadi pagi aku jadi gak mood buat kuliah. Dosen ngoceh ngalor-ngidul aku tinggal hotspotan buka facebook dan blog . Pasang status yang isinya marah-marah buat cowok sialan itu. Ketika kuliah hampir usai dosen tiba-tiba bilang kalau bakalan ada asdos yang ngedampingin beliau selama dua pertemuan besok dan untuk selanjutnya asdos tersebut bakalan ngegantiin beliau kalau beliau berhalangan hadir.
Kelas heboh banget karna udah ada yang nyebar gosip kalau asdos itu cowok. Dasar cewek, cepet banget kalau ada kabar kayak gini. Maklum jugalah kuliahku kan miskin cowok. Tiba-tiba tanpa ketuk pintu, ada cowok yang nyelonong masuk.
“Elu!!”uppzzz aku keceplosan.
“Kenapa Na?”tanya dosen.
“Gak pa-pa bu, cuma kaget aja, sekarang ini zaman udah edan bu. Cowok gak tau sopan santun dan gak ngrasa bersalah”jawabku ketus sambil melirik tajam kearah cowok sarap itu. What the..!!! Dia Cuma jawab senyum! Najis!
“Kamu itu ngomong apa sih. Apa kamu sudah kenal dengan Bayu ini? Dia ini asisten yang ibu ceritakan.”
“Salam kenal”katanya enteng sambil senyum yang iaakzz, playboy banget.
Sialan. Dosa apa sih aku kenapa dipertemukan dengan makhluk antabranta kayak gini.
***
“Hari ini bu Ayu berhalangan hadir. Saya diberi amanat untuk menyampaikan bab selanjutnya dan ada tugas setelah bab selesai saya sampaikan”katanya mengawali kuliah hari itu. Makin tambah gak semangat aja aku.
Seperti biasa setiap kuliah selesai aku selalu keluar kelas paling akhir. Aku emang malas kalau buru-buru, lagipula aku ngelesi masih tiga jam lagi.
“Gak pulang, Na?”tanya si cunguk Bayu.
“Pulanglah, masak mau nginep disini”jawabku ketus,dia malah tersenyum.
“Kamu lupa ya?”tanyanya sumbang.
“Maksud ente?”
“Ya udah kalau gitu, aku mau ngerjain paper. Kamu jangan jutek gitu napa ntar g laku lhoh”ledeknya lalu pergi.
Sialan tuh anak. Eh, tadi dia bilang lupa? Emang aku lupa dengan apa? Aku lupa dengan siapa? Perasaan gak ada yang aku lupain deh. Aneh-aneh aja tuh cowok lama-lama.
***

“Na, kamu dicariin tuh. Katanya dari kampus”kata mama. Padahal lagi enak-enakan maen game,mumpung ngelesi liburkan.
“Dari kampus? Siapa mah? Masak dari kampus mau repot-repot dateng ke rumah”tanyaku heran.
“Mama juga gak tau. Dah sana temuin dulu, gak enak kalau tamu harus nunggu.” Aku langsung mematikan laptopku dan berjalan menuju teras rumah.
“Siang ,Na” sapanya dengan senyum khas playboynya.
“Siang. Ngapain ente datang kesini. Penting apa yah?”jawabku sengit.
“Na, jangan lupa buatin minum!”teriak mama dari dalam. Kayak ginian tamu? Masih mending gak ane usir trus lemparin sendal.
“Ea ea! Mau minum apa?!”tanyaku ketus.
“Gak usah aja,Na. Gak mau ngrepotin kamu”jawabnya sok manis banget.
“Yhah, harusnya emang gitu. Nah ada perlu apa?” Dia gak segera menjawab tapi dia merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan gelang. Rasanya familiar banget yah ma gelang itu.
“Kamu gak inget ini, Na?”Aku menggeleng.
“Kamu harusnya punya pasangan ini, Na”ia memperlihatkan bagian yang kelihatannya hilang. Aku melihat baik-baik. Tangan itu. Bagian itu. Gelang itu. Rasanya kepalaku menjadi berat. Semua terlihat kabur. Wajah bayu seperti. . .
***

“Janji ya meskipun kamu pindah, kamu gak boleh nglupain aku”kata anak kecil itu.
“Aku gak mau pindah, aku pengennya disini sama kamu” ucapku tanpa sadar sambil menangis. Ia mengusap air mataku memberiku sebuah gelang.
“Jangan nangis dong. Ini masing-masing kita pegang satu. Kalau gelang ini disatuin, gambar dan tulisannya bakalan terlihat jelas. Jangan sampai hilang ya. Jaga baik-baik. Karna aku akan mencarimu. Kita akan ketemu lagi nanti. Jangan lupain aku dan namaku. Ingat aku bahwa aku . . .”
Kepalaku terasa berat. Mataku pedih buat melihat. Duh kenapasih aku. Aku menyipitkan mata kulihat disampingku wajah anak kecil tadi. Aku mencoba mengingat.
“Kamu siapa?”Tanyaku heran setelah susah payah aku berusaha untuk mengangkat kepalaku.
“Kamu tadi pingsan, Na. Sekarang kamu lagi di kamarmu. Istirahat aja dulu”katanya dengan nada lembut seperti anak kecil tadi.
“Kamu kayak anak kecil yang tadi?”
“Anak kecil?”
“Ia tadi aku nangis didepan anak kecil”kataku ngelantur.
“Anak kecil? Oh, mungkin kamu tadi mimpi, Na.”Dia tersenyum lagi. Seperti anak itu. Aku melihat sekeliling ruangan. Memang aku berada di kamarku. Tiba-tiba aku melihat benda yang tak asing yang di pegang olehnya.
“Itu gelang yang dibawa anak kecil tadi kan?”tanyaku sambil menunjuk gelang yang ia pegang.
“Gelang ini milikku,Na. Dan pasangannya pasti ada di kamu.”Ia memberikan gelangnya di tanganku. Aku mengamati gelang itu. Sama seperti. . .
“Bantu aku berdiri”kataku singkat. Langsung aku menuju almari tua disudut kamarku. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Aku reflek bergerak mencari sesuatu yang harusnya menjadi suatu pengikat bagiku. Aku bergerak tanpa adanya suatu perintah dari otakku.
Aku mulai menggeledah seluruh isi almari yang penga dan berdebu. Aku memilah-milah. Tiba-tiba aku menemukan kotak hijau yang usang. Aku membuka kotak itu dan akupun menangis.
Aku menemukan gelang pasangan tersebut yang bertuliskan I.Be (Irvana Bayu) kakak kandungku. Aku terduduk. Aku memeluk erat gelang itu.
“Kak Ibe. . .” kataku sambil sesenggukan. Ia tak berkata apapun. Ia hanya menghampiriku dan memelukku.
“Akhirnya aku menemukanmu adikku. Kau tau betapa aku merindukanmu saat kau pergi dengan orang tua barumu. Aku sendirian disana. Aku mencoba menjadi kakak di panti asuhan itu tapi tak ada yang bisa menjadi adikku Ina . . .” Ia memelukku erat sangat erat. Aku merasa kembali dalam pelukan hangat yang lama aku rindukan. Ikatan antara adik dan kakak.

***

2 komentar: